Al-Ma’ad, 19 Sept 2013
Zahra Salsa Nabila, anak didikku yang paling verbal
berceloteh: “Semalam hujan ya, mati lampu lagi,
ibu sendirian di sini. Kok nggak takut sih?”
Aku tersenyum saja.
Sebenarnya aku takut…
Sikapku ini nggak bermaksud untuk sok’ kalem. Tapi merasa
tidak setuju saja sama orang dewasa yang biasanya menjawab “Ohya, harus berani
dong, kan ada Allah dan Malaikat yang jagain…” Justru karena sadar ada Allah
yang Maha Menjaga juga malaikatNya yang akan selalu mencatat amalanku. Dalam
gelap dan di tengah derasnya hujan aku ketakutan karena lebih merindukan
seseorang.
Lalu Zahra berceloteh lagi kepada rekanku: “Bu Defa pemberani
ya, kenapa nggak jadi dokter atau pengusaha? Kok, jadi guru sih?”
Aku tertawa bukan mengejek apalagi menangis. Aku Cuma
kepikiran, memangnya kenapa menjadi guru? Coba perhatikan kalimat ini:
“pemberani, kenapa nggak jadi guru atau pengusaha? Kok malah jadi guru?”
Hehe, intinya dokter atau pengusaha di mata dia adalah sosok pemberani,
sedangkan guru… aku tidak tahu, toh, dia tidak bilang kan? Aku Cuma bisa
menerka-nerka dari sudut pandang orang dewasa. Zahra masih kanak-kanak (5thn)
mungkin saja dia hanya mendengar selintas bahwa seorang dokter itu pemberani
karena berani menyuntik orang atau mengurusi mayat. Dan pengusaha itu pemberani
karena setiap detik yang mereka jalani antara untung dan rugi. Wallohu’alam.
Guru. Mungkinkah nampak seperti pecundang?
Tidak! Sama sekali tidak! Aku tak pernah mengubah sudut
pandangku tentang kemuliaan jasa seorang guru. Hanya saja, aku menemukan titel
guru yang dipecundangi sebagian orang. Ketika mereka tak punya lagi kerjaan
yang menjamin dapat menghasilkan gaji per bulan. Atau lebih parah dari itu,
ketika sang guru mengartikan makna perjuangan sebatas berkoar-koar di dalam
kelas atau lingkungan sekolah saja. Merasa cukup ketika anak didiknya sukses
menjadi insan kamil sementara untuk diri pribadinya merasa biasa ketika berbuat
kesalahan dan membela diri dengan alasan manusia tak ada yang sempurna. Guru
juga manusia…
Lalu, bagaimana denganku? Detik ini aku merasa berterima
kasih kepada Zahra. Ia memberiku penguatan, sama seperti aku yang selalu
memberi panguatan kepada siapapun yang memiliki kehendak baik. Aku menemukan
titik jenuh menjadi seorang guru. Kenapa
tidak jadi dokter atau pengusaha saja? Sebelum hari ini, aku sempat
memikirkan. Aku bercita-cita menjadi guru, murni sebagai guru. Aku tidak tahu
kalau ternyata guru itu pelik dengan masalah keuangan dan beragam persoalan
lain di luar kelas. Tapi aku tidak seberani yang Zahra kira. Aku tidak berani
hengkang, lalu banting setir menjadi sosok lain. Aku tetap setia dan mengasihi
anak-anak didikku. Maka aku tetap mengajar meski konsentrasiku sudah agak
buyar.
Jenuh, sifat yang mungkin aku tiru dari abangku yang mudah
bosan. Setia, sifat yang mungkin aku tiru dari Bapak yang tekun dan penyukur.
Suatu saat aku juga nekat, mungkin meniru dari sifat teteh yang penuh kejutan.
Dan masih ada sifat ibu yang penyabar-penakut yang mungkin sedang aku tiru
sekarang.
Kembali kepada Zahra, kali ini aku menerka-nerka apa yang ia
pikirkan tentang sosok guru. Kenapa tidak termasuk pemberani seperti dokter dan
pengusaha? Padahal dulu (2009) aku memulai peran sebagai guru pengganti betapa sukar
dan mendebarkannya.
“Ibu baik deh, aku sayaaaang sekali sama ibu…” Zahra mengecup
pipiku.
Begitu saja, sudah cukup bagiku. Terima kasih Zahra. Ibu juga
sayang… (hehe).
Aku hanya berpikir ingin menjadi guru yang sebenar-benarnya
guru. Mungkin seperti guru di zaman Rosululloh
SAW. Aamin. (guru+dokter+pengusaha).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar